Musim Gugur

Senin, 15 Maret 2010

The Princess and Pea

The Princess and Pea
Once upon a time there was a prince who wanted to marry a princess; but she would have to be a real princess. He travelled all over the world to find one, but nowhere could he get what he wanted. There were princesses enough, but it was difficult to find out whether they were real ones. There was always something about them that was not as it should be. So he came home again and was sad, for he would have liked very much to have a real princess.



One evening a terrible storm came on; there was thunder and lightning, and the rain poured down in torrents. Suddenly a knocking was heard at the city gate, and the old king went to open
it.
It was a princess standing out there in front of the gate. But, good gracious! what a sight the rain and the wind had made her look. The water ran down from her hair and clothes; it ran down into the toes of her shoes and out again at the heels. And yet she said that she was a real princess.
Well, we'll soon find that out, thought the old queen. But she said nothing, went into the bed-room, took all the bedding off the bedstead, and laid a pea on the bottom; then she took twenty mattresses and laid them on the pea, and then twenty eider-down beds on top of the mattresses.
On this the princess had to lie all night. In the morning she was asked how she had slept.
"Oh, very badly!" said she. "I have scarcely closed my eyes all night. Heaven only knows what was in the bed, but I was lying on something hard, so that I am black and blue all over my body. It's horrible!"
Now they knew that she was a real princess because she had felt the pea right through the twenty mattresses and the twenty eider-down beds.

Cindelaras

Cindelaras



Kerajaan Jenggala dipimpin oleh seorang raja yang bernama Raden Putra. Ia didampingi oleh seorang permaisuri yang baik hati dan seorang selir yang memiliki sifat iri dan dengki. Raja Putra dan kedua istrinya tadi hidup di dalam istana yang sangat megah dan damai. Hingga suatu hari selir raja merencanakan sesuatu yang buruk pada permaisuri raja. Hal tersebut dilakukan karena selir Raden Putra ingin menjadi permaisuri.



Selir baginda lalu berkomplot dengan seorang tabib istana untuk melaksanakan rencana tersebut. Selir baginda berpura-pura sakit parah. Tabib istana lalu segera dipanggil sang Raja. Setelah memeriksa selir tersebut, sang tabib mengatakan bahwa ada seseorang yang telah menaruh racun dalam minuman tuan putri. "Orang itu tak lain adalah permaisuri Baginda sendiri," kata sang tabib. Baginda menjadi murka mendengar penjelasan tabib istana. Ia segera memerintahkan patih untuk membuang permaisuri ke hutan dan membunuhnya.

Sang Patih segera membawa permaisuri yang sedang mengandung itu ke tengah hutan belantara. Tapi, patih yang bijak itu tidak mau membunuh sang permaisuri. Rupanya sang patih sudah mengetahui niat jahat selir baginda. "Tuan putri tidak perlu khawatir, hamba akan melaporkan kepada Baginda bahwa tuan putri sudah hamba bunuh," kata patih. Untuk mengelabui raja, sang patih melumuri pedangnya dengan darah kelinci yang ditangkapnya. Raja merasa puas ketika sang patih melapor kalau ia sudah membunuh permaisuri.

Setelah beberapa bulan berada di hutan, sang permaisuri melahirkan seorang anak laki-laki. Anak itu diberinya nama Cindelaras. Cindelaras tumbuh menjadi seorang anak yang cerdas dan tampan. Sejak kecil ia sudah berteman dengan binatang penghuni hutan. Suatu hari, ketika sedang asyik bermain, seekor rajawali menjatuhkan sebutir telur ayam. Cindelaras kemudian mengambil telur itu dan bermaksud menetaskannya. Setelah 3 minggu, telur itu menetas menjadi seekor anak ayam yang sangat lucu. Cindelaras memelihara anak ayamnya dengan rajin. Kian hari anak ayam itu tumbuh menjadi seekor ayam jantan yang gagah dan kuat. Tetapi ada satu yang aneh dari ayam tersebut. Bunyi kokok ayam itu berbeda dengan ayam lainnya. "Kukuruyuk... Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra...", kokok ayam itu

Cindelaras sangat takjub mendengar kokok ayamnya itu dan segera memperlihatkan pada ibunya. Lalu, ibu Cindelaras menceritakan asal usul mengapa mereka sampai berada di hutan. Mendengar cerita ibundanya, Cindelaras bertekad untuk ke istana dan membeberkan kejahatan selir baginda. Setelah di ijinkan ibundanya, Cindelaras pergi ke istana ditemani oleh ayam jantannya. Ketika dalam perjalanan ada beberapa orang yang sedang menyabung ayam. Cindelaras kemudian dipanggil oleh para penyabung ayam. "Ayo, kalau berani, adulah ayam jantanmu dengan ayamku," tantangnya. "Baiklah," jawab Cindelaras. Ketika diadu, ternyata ayam jantan Cindelaras bertarung dengan perkasa dan dalam waktu singkat, ia dapat mengalahkan lawannya. Setelah beberapa kali diadu, ayam Cindelaras tidak terkalahkan.

Berita tentang kehebatan ayam Cindelaras tersebar dengan cepat hingga sampai ke Istana. Raden Putra akhirnya pun mendengar berita itu. Kemudian, Raden Putra menyuruh hulubalangnya untuk mengundang Cindelaras ke istana. "Hamba menghadap paduka," kata Cindelaras dengan santun. "Anak ini tampan dan cerdas, sepertinya ia bukan keturunan rakyat jelata," pikir baginda. Ayam Cindelaras diadu dengan ayam Raden Putra dengan satu syarat, jika ayam Cindelaras kalah maka ia bersedia kepalanya dipancung, tetapi jika ayamnya menang maka setengah kekayaan Raden Putra menjadi milik Cindelaras.

Dua ekor ayam itu bertarung dengan gagah berani. Tetapi dalam waktu singkat, ayam Cindelaras berhasil menaklukkan ayam sang Raja. Para penonton bersorak sorai mengelu-elukan Cindelaras dan ayamnya. "Baiklah aku mengaku kalah. Aku akan menepati janjiku. Tapi, siapakah kau sebenarnya, anak muda?" Tanya Baginda Raden Putra. Cindelaras segera membungkuk seperti membisikkan sesuatu pada ayamnya. Tidak berapa lama ayamnya segera berbunyi. "Kukuruyuk... Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra...," ayam jantan itu berkokok berulang-ulang. Raden Putra terperanjat mendengar kokok ayam Cindelaras. "Benarkah itu?" Tanya baginda keheranan. "Benar Baginda, nama hamba Cindelaras, ibu hamba adalah permaisuri Baginda."

Bersamaan dengan itu, sang patih segera menghadap dan menceritakan semua peristiwa yang sebenarnya telah terjadi pada permaisuri. "Aku telah melakukan kesalahan," kata Baginda Raden Putra. "Aku akan memberikan hukuman yang setimpal pada selirku," lanjut Baginda dengan murka. Kemudian, selir Raden Putra pun di buang ke hutan. Raden Putra segera memeluk anaknya dan meminta maaf atas kesalahannya Setelah itu, Raden Putra dan hulubalang segera menjemput permaisuri ke hutan.. Akhirnya Raden Putra, permaisuri dan Cindelaras dapat berkumpul kembali. Setelah Raden Putra meninggal dunia, Cindelaras menggantikan kedudukan ayahnya. Ia memerintah negerinya dengan adil dan bijaksana.

Minggu, 14 Maret 2010

Keidahan Istana Kaisar

Keindahan Istana Kaisar

Ada sebuah negeri di Timur jauh yang disebut Negeri Matahari Terbit. Negeri ini dipimpin oleh seorang kaisar. Istana negeri itu dihiasi sebuah taman yang amat molek. Suatu hari, seperti biasa, kaisar berjalan-jalan di taman. Tapi keindahan tamannya tiba-tiba nampak bercela. Sebatang pohon prem dekat tembok meranggas. Apakah pohon itu akan mati?

Bergegas kaisar mendekati tempat itu. Dirabanya salah satu rantingnya. Ranting itu patah di tangannya! Ranting itu kering dan getas. Pohon prem itu harus segera ditebang. Sebab akan mengotori pemandangan. Tetapi tanpa pohon itu, susunan keindahan tamannya tidak akan sempurna lagi.

Kejadian di taman membuat hati kaisar tidak tenang. Ia lalu mengurung diri dalam kamar. Merenung dan menyesali diri. Hatinya galau. Kaisar pun jatuh sakit. Para punggawa istana disebar, melongok setiap taman atau kebun di negeri itu. Mencoba mencari pohon prem yang serupa pohon prem taman istana yang mati. Akhirnya ditemukan juga pohon yang dicari itu. Tumbuh di kebun seorang pelukis bernama Ukiyo.

Punggawa istana itu mengutarakan maksudnya. Paparnya,”Maaf Pak Pelukis, pohon prem ini harus segera dipindah ke taman istana. Beliau kerjanya hanya bermuram durja. Bahkan kini kesehatan beliau memburuk. Jika beliau sakit,pasti urusan pemerintahan kacau.

Ukiyo manggut-manggut, memahami keadaan itu. Kesehatan jiwa dan jasmani Sang Kaisar hanya bisa disembuhkan dengan pohon prem itu. Tetapi, Ukiyo dan istrinya Tanka, serta anak lelakinya Musuko, merasa amat sedih juga. Sebab Ukiyo gemar melukis pohon itu beserta kembang-kembangnya. Tanka banyak memperoleh ilham menulis sajak-sajaknya saat ia berada di keteduhan pohon prem itu, dan lebih dari itu, pohon prem itu tempat bertengger teman Musuko, seekor burung bulbul.

Tetapi Ukiyo sadar, ia harus menyerahkan pohon prem itu demi ketentraman negeri. Maka ia meminta waktu memiliki pohon prem itu semalam lagi saja.Esok harinya, pohon prem itu digali. Dan ketika pohon itu sudah tergolek di atas gerobak, dan siap diberangkatkan, Musuko menghampiri seorang punggawa. Ia minta izin menggantungkan sebuah gulungan kertas pada salah satu dahannya.

Pohon prem itu kemudian ditanam di taman istana. Nampak taman itu kini menjadi sempurna kembali. Kaisar kembali memperoleh kegembiraan. Kesehatannya berangsur pulih. Dan suatu hari, ketika Kaisar mengamati pohon itu lebih seksama, nampak olehnya gulungan kertas kecil itu. Kaisar memungutnya. Membukanya dan nampak olehnya gulungan kertas kecil itu. Kaisar memungutnya. Membukanya dan nampak olehnya sebuah lukisan ranting pohon, dihinggapi seekor burung bulbul. Dibawah gambar itu ada selarik sajak:

“Bila senja telah tiba saat bulbul terbang pulang, apa yang harus hamba katakan padanya ?”

Beberapa saat lamanya Kaisar berdiri di bawah pohon prem. Benaknya dipenuhi berbagai macam pertanyaan. Lalu ia menyuruh utusan memanggil Ukiyo, Tanka, dan Musuko. Setelah

Nilai Persahabatan dan Uang

Nilai Persahabatan dan Uang

Di sebuah kota tinggallah seorang saudagar kaya. Putranya bernama Mahmud. Teman Mahmud banyak sekali. Ia juga sering menjamu teman-temannya makan malam.

Suatu hari Pak Saudagar Kaya bertanya pada anaknya, “Mahmud, siapakah mereka yang sering datang ke rumah ini?”
Mereka teman-temanku, Ayah,”jawab Mahmud.
Esok harinya, Pak Saudagar Kaya kembali bertanya pada anaknya. Jawaban Mahmud tetap sama. Akhirnya Pak Saudagar Kaya mengusir Mahmud dari rumahnya.
Dengan sedih Mahmud pergi ke rumah seorang temannya.
“Kawan, aku diusir ayahku. Bolehkah aku bermalam di rumahmu?”“Ah, Mahmud! Sayang sekali, tak ada kamar kosong di rumahku. Kasihan sekali nasibmu!” jawab temannya itu.
Mahmud lalu mengunjungi rumah temannya yang lain. Namun semua memberi jawaban yang sama. Mahmud terpaksa bermalam di jalan. Setelah tiga minggu berlalu, datanglah pelayan ayahnya sambil berkata, “Tuan Muda, Tuan diminta kembali oleh ayah Tuan!”
Maka kembalilah Mahmud kepada ayahnya. Setibanya di rumah, ayahnya berkata, “Anakku, seorang teman sejati tak akan membiarkan temannya dalam kesulitan. Mereka bukanlah teman sejati. Mereka berteman denganmu hanya karena uang! Jadi, hati-hatilah dalam memilih teman!”.

Setelah memberi nasihat, Pak Saudagar Kaya pergi ke pasar. Di sebuah tempat yang sepi, ia melihat seorang laki-laki terbunuh. Ia lalu mendekat untuk menolong laki-laki itu. Namun malang benar nasibnya! Ia malah disangka membunuh laki-laki itu. Polisi menangkapnya dan membawanya ke penjara.

Pengadilan menjatuhkan hukuman gantung kepadanya. Mendengar berita itu teman-teman Pak Saudagar Kaya merasa iba. Mereka lalu beramai-ramai datang menghadap Hakim.

“Yang Mulia Bapak Hakim, tolong bebaskan kawan saya ini. Ia pasti tidak bersalah. Saya akan memberikan seluruh harta milik saya kepada Yang Mulia, andai Pak Saudagar Kaya dibebaskan!” seru Pak Peternak, sahabat Pak Saudagar Kaya.

Namun Hakim tetap pada keputusannya.
“Yang Mulia, bebaskanlah teman hamba ini. Jika Yang Mulia menginginkan jaminan, saya bersedia menjadi penggantinya. Gantunglah saya, sebagai ganti Pak Saudagar Kaya!” tantang Pak Pedagang Kain.
Mendengar kata-kata Pak Pedagang Kain, Hakim berpikir keras. Ia meminta kepada polisi untuk menyelidiki perkara pembunuhan sekali lagi. Akhirnya polisi menemukan pembunuh yang sebenarnya. Pak Saudagar Kaya pun dibebaskan.

Ketika Pak Saudagar Kaya sampai di rumah, ia berkata kepada Mahmud, “Anakku, lihat! Mereka itulah kawan-kawan sejatiku. Mereka tidak meninggalkan aku dikala aku susah. Kau harus mencari teman yang demikian!”Mahmud mengangguk-angguk. Pak Saudagar Kaya lalu berkata lagi, “Nah, kini kuberikan kau seratus dinar. Pergunakanlah uang ini sebaik-baiknya!” Mahmud menerima pemberian ayahnya dengan senang hati. Ia membuka sebuah toko kecil. Setelah beberapa lama Saudagar Kaya datang mengunjungi toko anak

Snow White

Puteri Salju Dan Tujuh Manusia Kerdil

Pada jaman dulu,di tengah-tengah musim dingin,ketika keping-keping salju sedang turun seperti bulu-bulu di atas tanah,seorang ratu duduk di sebuah jendela yang kusennya terbuat dari kayu hitam dan menjahit.Dan karena menjahit dan melihat keluar pada bentangan darat yang serba putih,ia tertusuk jarinya sendiri dengan jarum,dan tiga tetes darah jatuh di atas salju di luar.
Karena warna merah terlihat sangat menyolok terhadap warna putih,Ratu berkata kepada dirinya sendiri,”oh,what would I not give to have a child as white as snow,as red as blood,and as black as ebony !”


Selamat Datang !suatu kebanggaan dan kebahagian bagi saya atas kunjungan anda diblog saya ini. jangan lupa untuk mengunjungi blog ini kembali di alamat ebbelytobbely.blogspot.com ditunggu kunjungan berikutnya, Terimakasih

Template by:
Free Blog Templates